Minggu, 04 Maret 2012

Relakanlah Aku Ibu




Inilah gundah cahaya kala senja. Ada silau yang sedikit demi sedikit mereda. Anak – anak berlarian mengejar bayangan yang hilang. Sang bulan pun muncul membawa serta bintang – bintang.

Tapi indahnya langit pada malam itu tidak dapat dirasakan oleh keluarga bapak Syafiq dan ibu Raniyah. Karena pada malam itu anaknya yang bernama Saffa menderita suatu penyakit yang belum diketahui jenisnya dan Ia harus menjalani pemeriksaan yang lebih lanjut tentang penyakitnya itu keesokan harinya di rumah sakit. Umur Saffa waktu menderita penyakit yang belum diketahui itu adalah sekitar tiga tahun. Hal inilah yang membuat pak Syafiq dan ibu Raniyah semakin menghawatirkan kondisi anaknya. Sampai – sampai karena terlalu sibuk mengurus Saffa, ibu Raniyah dan pak Syafiq tidak lagi memperhatikan keadaan anaknya yang bernama Aero yang tak lain adalah kakak kandung dari Saffa.

            “  Pah, mama ngak sanggup kalau liat keadaan Saffa yang seperti ini. Dia masih kecil pah.. kenapa nasibnya seperti ini ” ujar ibu Raniyah yang sedari tadi tak henti – hentinya mengeluarkan air matanya.
            “  Sabar mah, ini cobaan dari Yang Kuasa buat keluarga kita ” jawab pak Syafiq seraya menenangkan istrinya.
            Kesokan harinya, Saffa di bawa ke rumah sakit dengan kedua orang tuanya tapi Aero tidak di perbolehkan ikut karena dia harus menjaga rumah.
            “ Aero, kamu tinggal dirumah yaa.. Papa sama Mama mau kerumah sakit antar adik mu ceck-up ” kata pak Syafiq sambil mengelus kepala Aero.
            “ Iya Pah. Aero akan jaga rumah dengan baik. ” jawab Aero singkat.
            “ Hati – hati yaa sayang.. ” suara ibu Raniyah terdengar dari dalam mobil
            “ Bye.. bye.. ” Aero melambaikan tangannya  dengan perasaan yang cemas.

            Sesampainya dirumah sakit Saffa langsung di bawa masuk ke rumah sakit tepatnya di ruang rawat inap dan segera di periksa oleh dokter. Tak berapa lama kemudian Saffa di bawa ke laboratorium untuk di periksa darahnya agar dapat memeastikan penyakit apa yang sedang di derita oleh anak itu. Setelah selesai melakukan pemeriksaan lab, Saffa kembali masuk ke kamar rawatnya dan disitu Ia di putuskan agar menginap di rumah sakit. 

Pak Syafiq dan ibu Raniyah dengan sabar menunggu hasil laboratorium anaknya tersebut. Pak Syafiq memutuskan agar dia yang menemani Saffa di kamarnya, sedangkan ibu Raniyah menunggu hasil ceck-up anaknya diluar. Setelah menunggu beberapa saat dokter yang memeriksa Saffa menemui ibu Raniyah di ruang tunggu untuk memberi tau hasil pemeriksaan kesehatan anaknya yang sebenarnya.
“ Ibu Raniyah maaf saya harus memberitahukan ibu keadaan anak ibu yang sebenarnya, bahwa anak ibu menderita kanker darah ” tutur dokter dengan perasaan tak tega.
“ Apa Dok..??? Anak saya menderita Leukimia. ” jawab ibu Raniyah yang sedari tadi tak dapat membendung air matanya.  
Mendengar tangisan istrinya, pak Syafiq langsung menemui istrinya diluar,  menenyakan apa yang sebenarnya terjadi pada istrinya.
“ Mah,, ada apa ini ? kenapa mama menangis ? ” kata pak Syafiq kebingungan.

Ibu Raniyah hanya bisa menangis dan terus menangis, pertanyaan suaminya tak di gubris oleh dirinya. Sampai pada akhirnya dokter mempersilahkan mereka berdua untuk menuju ruangannya agar dapat membicarakan permasalahan ini. Pak Syafiq dan ibu Raniyah berjalan menuju ruangan dokter, dan ibu Raniyah mulai menghapus tetes –tetes air matanya sampai kering. Tak lama kemudian mereka sampai di ruangan dokter. Dokter pun mempersilahkan mereka berdua untuk masuk.
“  Silahkan duduk bapak dan ibu.  ” kata dokter mempersilahkan.
“ Terima kasih dok. ” jawab pak Syafiq.
“ Begini pak, bu.. Saffa mungkin bisa terselamatkan jika bapak dan ibu mempunyai anak lagi yang mempunyai gen yang sama dengan Saffa. Karena tali pusar anak yang ibu lahirkan nanti dapat menyelamatkan Saffa ”  ujar dokter.
“ Bagaimana caranya dok saya mempunyai seorang anak yang memiliki gen yang sama dengan Saffa..??? ”  tanya ibu Raniyah dengan harapan yang tinggi.
“  Bayi tabung bu. ” jawab dokter singkat.
“  Tapi tindakan ini sangat tidak berprikemanusiaan, saya sebagai dokter hanya bisa memberitaukan saja tidak menganjurkan untuk melakukan hal tersebut. ”  timpal dokter.

Setahun kemudian……
Seorang bayi perempuan lahir ke dunia ini dengan membawa beban yang sangat berat. Bayi perempuan  ini diberi nama Nafsyi, sungguh malang nasib anak ini ketika dilahirkan dia harus merelakan tali pusarnya itu untuk diambil agar menyelamatkan kakaknya yang tengah menderita penyakit yang sangat mematikan. 

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun pun dengan cepat berganti. Tak terasa umur Nafsyi sekarang sudah menginjak usia 9 tahun, tapi nasib Nafsyi tak berubah sedikit pun. Bahkan ibunya ingin mengambil organ apapun yang ada di tubuh Nafsyi demi menyelamatkan Saffa dan ibu Raniyah tidak memperdulikan masa depan Nafsy apabila organ tubuhnya itu di ambil dari tubuhnya. 

Dan bukan Nafsyi saja yang tidak di perhatikan oleh kedua orang tuanya tetapi Aero kakak dari Saffa dan Nafsyi pun tak mendapat kasi sayang yang cukup dari kedua orang tuanya. Aero pun tidak mau melanjutkan sekolah ketika Ia berumur 17 tahun karena dia menderita penyakit yang tak di ketahui sampai sekarang. Dan kedua orang tuanya tak tau sama sekali jika Aero sakit. Bahkan setiap hari Aero hanya melakukan hobinya yaitu melukis dan pergi berkeliling kota untuk mengatasi rasa bosannya dan sedihnya ketika melihat adiknya Saffa harus menderita. 

Saat ini Saffa sudah berumur 15 tahun, dan Ia tidak pernah bergaul dengan siapa pun kecuali dengan kakaknya Aero dan adiknya Nafsyi karena dia menganggap bahwa dirinya itu jelek dan tidak ada yang mau bergaul dengan dirinya. Saffa mengalami krisis kepercayaan diri semenjak Ia menjalani terapi kanker yaitu kemo terapi. Pada saat kemo terapi Ia harus rela kehilangan rambutnya sampai tak tersisa satu helai di kepalanya. Hal itu yang membuat Saffa merasa malu dan tak mau keluar menemui orang – orang. Ibu Raniyah dan pak Syafiq mencoba membujuk Saffa agar dia mau keluar rumah.
“  Sayang kita pergi jalan – jalan yuk ?? ” ajak pak Syafiq.
“  Ngak mau pah.. Saffa itu jelek.. ”  jawab Saffa dengan nada tinggi.
“  Kamu itu cantik sekali sayang. ” timpal pak Syafiq seraya meyakinkan.
“ Papa bisa ngomong gitu karena Saffa itu anak papa. ” ujar Saffa sambil mengambil selimut lalu menutup mukanya.
“ Saffa ayo sekarang kita keluar untuk jalan – jalan. ”  kata ibu Raniyah dari balik pintu kamar Saffa.
“ Saffa ngak mau mah.. orang akan anggap Saffa itu aneh karena sebagai seorang cewek Saffa ngak punya sehelai pun rambut karena bagi wanita rambut itu mahkota. ” jawab Saffa menatap tajam mata mamanya.

Mendengar perkataan anaknya itu, ibu Raniyah segera masuk ke dalam kamar mandi untuk melakukan sesuatu yang akan membuat anaknya tidak merasa sendirian lagi. Karena merasa khawatir dengan keadaan mamanya Saffa tak berhenti menyebut nama mamanya itu. Tanpa diduga sebelumnya, ketika ibu Raniyah keluar dari kamar mandi Ia sudah mencukur semua rambutnya sampai botak menyerupai anaknya. Ia  rela melakukan ini semua karena dia tidak mau anaknya sedih.

Akhirnya Saffa ikut juga pergi jalan – jalan dengan keluarganya itu. Saffa berlari kesana kemari dengan Nafsyi dan Aero karena mereka semua sangat merasa bahagia karena dapat menghabiskan waktu bersama. Aero, Saffa, dan Nafsyi termasuk kakak beradik yang sangat akrab dan kompak. Saffa berjalan di tengah keramaian dengan perasaan yang gembira dan tidak merasa sedih lagi setelah mengetahui bahwa ibunya rela melakukan hal itu agar dia mengerti kalau walaupun botak tapi Saffa masih tetap cantik. Tak terhitung kebahagiaan yang ada saat keluarga itu pergi berlibur.

Seminggu setelah mereka sekeluarga pergi liburan, penyakit Saffa kembali kumat dan segera di larikan ke rumah sakit. Dokter mengatakan bahwa kondisi Saffa sangat memburuk bahkan dokter juga mengatakan bahwa ginjal Saffa sudah tidak dapat berfungsi lagi sebab ini adalah efek dari obat – obatan yang telah di minum oleh Saffa selama ini. 

Nafsyi dan Aero masuk kedalam ruang rawat inap Saffa dan menyemangatinya. Aero mempunyai sebuah kado special untuk adiknya, Aero melukis wajah Saffa. Dan lukisan itu sangat indah sekali.
“ Makasih yaa kakak ku sayang, lukisannya cantik sekali. ” Ujar Saffa sambil tersenyum bahagia.
“  Iya sama – sama.. ” jawab Aero singkat.
“ Nafsyi, kamu mau kan lakukan apapun demi kakak..??? ” tanya Saffa.
“ Apapun yang kakak minta pasti aku akan berusaha mengabulkan kak, ” ujar Nafsyi.
“ Kamu mau kan berhenti mendonorkan organ tubuh mu ke aku,, karena semua itu akan percuma. Aku sudah ngak kuat lagi dan agar di sisa – sisa terakhir hidup ku aku tidak membuat orang lain menderita. ” kata Saffa meyakinkan.
“ Tapi bagaimana caranya Nafsyi ngomong ke mama papa kak..?? ” tanya Nafsyi mencari tau.
            “ Kamu bilang ke mama sama papa bahwa kamu itu pengen hidup normal seperti anak – anak lainnya pengen pergi ke pantai, jadi pemandu sorak dan semua hal – hal yang dilakukan oleh anak – anak normal lainnya. ” ujar Saffa sambil memegang tanga Nafsyi.
            “  Tapi Saffa..?? ” kata Aero cemas
            “  Sudahlah kak, Saffa capek kayak gini terus lagipula hidup Saffa juga ngak bakal lama lagi jadi Saffa harus melakukan hal ini, karena Saffa mau mama itu bisa merelakan kepergian Saffa kak. Hanya itu yang Saffa inginkan. Jadi kakak harus mendukung Saffa ya. ” jelas Saffa.
            Keesokan harinya ibu Raniyah dan pak Syafiq membicaran tentang hal pendonoran ginjal itu kepada Nafsyi.
            “  Nafsyi, saat ini keadaan kakak mu sudah semakin parah dan Ia harus segera menerima donor ginjal. ”  ujar ibu Raniyah penuh harapan.
            “ Nafsyi ngak mau mah, dengan ginjal satu Nafsyi ngak bisa hidup dengan normal lagi. Nafsyi udah ngak bisa ke pantai, jadi pemandu sorak dan aktifitas yang dilakukan oleh anak – anak normal lainnya. ” jawab Nafsyi dengan emosi yang menggebu – gebu.
            “  Nafsyi..???  Ini bukan diri kamu yang sebenarnya sayang. Kamu harus menolong kakak mu yang sedang berada di ujung maut. ” tegas ibu Raniyah.
            “  Ini adalah Nafsyi yang sebenarnya mah, dan Nafsyi ngak bakalan donorin ginjal ini ke kak Saffa mah, pah. ” Jelas Nafsyi dan kemudian berlari menuju kamarnya.
            “ Nafsyi sudah besar dan dia sudah tidak bisa lagi kamu sogok dengan permen atau coklat. ” sindir pak Syafiq kepada istrinya.

Seminggu berlalu dan Nafsyi sampai saat ini tak mau keluar dari kamarnya terutama dia tak mau lagi bertemu dengan ibunya. Semakin hari keadaan Saffa memburuk dan dokter harus mengatakan bahwa waktu Saffa sudah dekat dan tidak dapat dihindari lagi.
            “  Dok, lakukanlah sesuatu kepada anak saya..?? ” ujar ibu Raniyah berharap banyak dari kata – kata dokter.
            “  Maaf bu.. Saat ini kita semua harus melakukan hal – hal yang di minta oleh Saffa agar dia bahagia untuk saat – saat ini. ”  tegas dokter.
            “  Dokter apa tidak bisa melakukan operasi pada Saffa setelah dokter pernah mengoperasi Saffa puluhan kali. ” jawab ibu Raniyah tak rela.
            “  Operasi hanya bisa memperparah keadaan Saffa bu.. jadi ibu harus melakukan sesutu hal yang dapat membuat Saffa bahagia.”  Tutur dokter jelas.


Keesokan harinya Nafsyi ingin menengok kakaknya, setelah seminggu tak melihat keadaannya. Nafsyi pergi ke rumah sakit dengan papanya. Setibanya di rumah sakit mereka langsung menuju kamar Saffa. Setelah sampai di kamar Saffa, Nafsyi langsung memeluk dan mencium kakaknya karena sudah lama tak bertemu.

            “  Pah,, Saffa mau pergi ke pantai..?? sekali aja pah. ” tanya Saffa memelas.
            “  Papa tanyakan ke dokter dulu ya sayang. Sabar ya. ” jawab pak Syafiq seraya meninggalkan kamar Saffa untuk ketemu dengan dokter.

            “  Dok, apa saya boleh bawa anak saya ke pantai..?? ”  tanya pak Syafiq.
            “  Boleh sekali pak, karena hal itulah yang di butuhkan oleh Saffa untuk saat ini. Nanti saya persiapkan segala sesuatunya pak. ” ujar dokter dengan perasaan lega.

            Pak Syafiq kembali ke kamar Saffa dan memberitahukan bahwa Ia boleh pergi ke pantai. Sebelum menuju pantai pak Syafiq kembali ke rumah untuk mengambil peralatan berenang. Sesampainya di rumah ibu Raniyah curiga kenapa suaminya pulang lagi ke rumah. Ia menengok ke arah mobil suaminya itu, dan ternyata disana ada Saffa. Dan ia langsung menemui suaminya.

            “  Pah, apa – apaan sih kamu kenapa kamu bawa Saffa keluar dari rumah sakit. Dia bisa meninggal pah. ”  tanya ibu Raniyah emosi.
            “  Asal kamu tau ya, Saffa itu sudah jenuh dan dia mau rekreasi sejenak. Dan kita untuk saat – saat ini harus mengabulkan semua permintaan Saffa. Jika kamu menghalangi kami kita bercerai. ”  tegas pak Syafik seraya meninggalkan ibu Raniyah untuk menuju ke pantai.

Tak lama kemudian mereka tiba di pantai. Dan senyum Saffa mulai mengembang.  Nafsyi pun ikut terhanyut akan keindahan pantai tersebut. Ibu Raniyah pun menyusul mereka bertiga ke pantai dan langsung memeluk suaminya sebagai tanda bahwa Ia tak ingin bercerai dari suaminya. Saffa pun semakin bahagia ketika melihat kedua orang tuanya berbaikan. Ayah. Ibu dan kedua putrinya ini pun larut dalam kebahagiaan.

            Keesokan harinya keadaan Saffa semakin menurun dan Aero tidak dapat berbohong lebih lama lagi. Karena melihat keadaan  adiknya yang semakin memburuk. Akhirnya Aero membicarakan kejadian waktu itu kepada papa dan mamanya. Nafsyi pun tak dapat mencegahnya.  Akhirnya semua mengetahui tentang rencan Saffa yang tak ingin mendapat donor dari adiknya lagi. Nafsyi dan Aero meminta maaf kepada Saffa.

            “  Kak, maafin Nafsyi karena Nafsyi ngak bisa melakukan tugas Nafsyi dengan baik. ”  ujar Nafsyi kecewa.
            “  Ngak apa – apa sayang, kamu itu adiknya kakak yang paling hebat karena kamu mau melakukan semua itu. ”  jawab Saffa dengan tersenyum.
            “  Kakak bandel, kan aku udah bilang jangan kasih tau siapa – siapa. ” Kata Saffa manja.
            “  Maafkan kakak yaa Saffa. ” ujar Aero sambil menhapus air matanya.
            “  Semuanya.. bisa ngak tinggalin aku berdua sama mama.. ”  tanya Saffa.
            “  Ayo.. kita harus pulang ” kata pak Syafiq.
Setelah berpamitan dengan Saffa, Nafsyi langsung pergi. Akhirnya mereka bertiga meninggalkan kamar Saffa.
“  Mah, mama marah ya sama aku..??? ”  tanya Saffa.
“  Tidak.. mama tidak marah.. hanya kesal ”  jawab ibu Raniyah.
“  Mah,, ini aku ada kado buat mama.. Aku sengaja mengasi album foto ini karena aku mau mama selalu ingat sama kegiatan yang pernah kita alami. Terutama pada saat liburan di pantai. Hidup ku sluar biasa kan mah..??? ” jelas Saffa.
“  Sangat luar biasa sayang ”  jawab ibu Raniyah.
“  Mama masih ingat saat aku pergi berkemah dan pada saat itu aku takut sendirian. Tapi mama selalu bilang agar aku duduk di kursi sebelah kanan supaya dapat melihat mama di belakang. Saat ini aku ada di kursi yang sama mah. ” terang Saffa sambil menenangkan mamanya yang sedari tadi tak henti – hentinya meneteskan air mata.
                            
Pada malam itu ternyata Saffa telah menghebuskan nafas terakhirnya. Dan Ia segera di kuburkan. Pak Syafiq, Ibu Raniyah, Aero, dan Nafsyi tidak berlarut – larut dalam kesedihan mereka kembali bangkit dan berusaha memperbaiki kehidupan yang kemarin – kemarin kurang baik.

            Ibu Raniyah saat ini telah kembali ke pekerjaannya yang semula dan mempunyai gaji yang sangat besar . Pak Syafiq memilih untuk bekerja sebagai pembina anak – anak yang bermasalah. Aero melanjutkan pendidikannya kembali setelah Ia mendapa beasiswa di sekolah seni di New York. Sementara Nafsyi menjadi seorang anak yang berprestasi di sekolahnya sekaligus dia menjadi ketua OSIS di sekolahnya.

Walaupun mereka semua sudah dewasa tetapi setiap liburan mereka selalu berada di tempat yang sama. Dimana Saffa sangat suka mengunjunginya. Nafsyi bingung kenapa Saffa lebih dulu meninggal dan mereka masih hidup, tapi entahlah. Hanya Tuhan yang tau.
Saat ini Nafsyi sadar bahwa dia dilahirkan ke dunia ini bukan sebagai penyelamat kakaknya tetapi bagaimana dia mempunyai seorang kakak yang sangat luar biasa.