Inilah gundah cahaya
kala senja. Ada silau yang sedikit demi sedikit mereda. Anak – anak berlarian
mengejar bayangan yang hilang. Sang bulan pun muncul membawa serta bintang –
bintang.
Tapi
indahnya langit pada malam itu tidak dapat dirasakan oleh keluarga bapak Syafiq
dan ibu Raniyah. Karena pada malam itu anaknya yang bernama Saffa menderita suatu
penyakit yang belum diketahui jenisnya dan Ia harus menjalani pemeriksaan yang
lebih lanjut tentang penyakitnya itu keesokan harinya di rumah sakit. Umur Saffa
waktu menderita penyakit yang belum diketahui itu adalah sekitar tiga tahun.
Hal inilah yang membuat pak Syafiq dan ibu Raniyah semakin menghawatirkan
kondisi anaknya. Sampai – sampai karena terlalu sibuk mengurus Saffa, ibu Raniyah
dan pak Syafiq tidak lagi memperhatikan keadaan anaknya yang bernama Aero yang
tak lain adalah kakak kandung dari Saffa.
“ Pah, mama ngak sanggup kalau liat keadaan
Saffa yang seperti ini. Dia masih kecil pah.. kenapa nasibnya seperti ini ”
ujar ibu Raniyah yang sedari tadi tak henti – hentinya mengeluarkan air
matanya.
“
Sabar mah, ini cobaan dari Yang Kuasa buat keluarga kita ” jawab pak Syafiq
seraya menenangkan istrinya.
Kesokan harinya, Saffa di bawa ke
rumah sakit dengan kedua orang tuanya tapi Aero tidak di perbolehkan ikut
karena dia harus menjaga rumah.
“ Aero, kamu tinggal dirumah yaa..
Papa sama Mama mau kerumah sakit antar adik mu ceck-up ” kata pak Syafiq sambil
mengelus kepala Aero.
“ Iya Pah. Aero akan jaga rumah
dengan baik. ” jawab Aero singkat.
“ Hati – hati yaa sayang.. ” suara
ibu Raniyah terdengar dari dalam mobil
“ Bye.. bye.. ” Aero melambaikan
tangannya dengan perasaan yang cemas.
Sesampainya dirumah sakit Saffa
langsung di bawa masuk ke rumah sakit tepatnya di ruang rawat inap dan segera
di periksa oleh dokter. Tak berapa lama kemudian Saffa di bawa ke laboratorium
untuk di periksa darahnya agar dapat memeastikan penyakit apa yang sedang di
derita oleh anak itu. Setelah selesai melakukan pemeriksaan lab, Saffa kembali
masuk ke kamar rawatnya dan disitu Ia di putuskan agar menginap di rumah sakit.
Pak
Syafiq dan ibu Raniyah dengan sabar menunggu hasil laboratorium anaknya
tersebut. Pak Syafiq memutuskan agar dia yang menemani Saffa di kamarnya,
sedangkan ibu Raniyah menunggu hasil ceck-up anaknya diluar. Setelah menunggu
beberapa saat dokter yang memeriksa Saffa menemui ibu Raniyah di ruang tunggu
untuk memberi tau hasil pemeriksaan kesehatan anaknya yang sebenarnya.
“
Ibu Raniyah maaf saya harus memberitahukan ibu keadaan anak ibu yang
sebenarnya, bahwa anak ibu menderita kanker darah ” tutur dokter dengan
perasaan tak tega.
“
Apa Dok..??? Anak saya menderita Leukimia. ” jawab ibu Raniyah yang sedari tadi
tak dapat membendung air matanya.
Mendengar
tangisan istrinya, pak Syafiq langsung menemui istrinya diluar, menenyakan apa yang sebenarnya terjadi pada
istrinya.
“
Mah,, ada apa ini ? kenapa mama menangis ? ” kata pak Syafiq kebingungan.
Ibu
Raniyah hanya bisa menangis dan terus menangis, pertanyaan suaminya tak di
gubris oleh dirinya. Sampai pada akhirnya dokter mempersilahkan mereka berdua
untuk menuju ruangannya agar dapat membicarakan permasalahan ini. Pak Syafiq
dan ibu Raniyah berjalan menuju ruangan dokter, dan ibu Raniyah mulai menghapus
tetes –tetes air matanya sampai kering. Tak lama kemudian mereka sampai di
ruangan dokter. Dokter pun mempersilahkan mereka berdua untuk masuk.
“ Silahkan duduk bapak dan ibu. ” kata dokter mempersilahkan.
“
Terima kasih dok. ” jawab pak Syafiq.
“
Begini pak, bu.. Saffa mungkin bisa terselamatkan jika bapak dan ibu mempunyai
anak lagi yang mempunyai gen yang sama dengan Saffa. Karena tali pusar anak
yang ibu lahirkan nanti dapat menyelamatkan Saffa ” ujar dokter.
“
Bagaimana caranya dok saya mempunyai seorang anak yang memiliki gen yang sama
dengan Saffa..??? ” tanya ibu Raniyah
dengan harapan yang tinggi.
“ Bayi tabung bu. ” jawab dokter singkat.
“ Tapi tindakan ini sangat tidak
berprikemanusiaan, saya sebagai dokter hanya bisa memberitaukan saja tidak
menganjurkan untuk melakukan hal tersebut. ”
timpal dokter.
Setahun
kemudian……
Seorang
bayi perempuan lahir ke dunia ini dengan membawa beban yang sangat berat. Bayi
perempuan ini diberi nama Nafsyi,
sungguh malang nasib anak ini ketika dilahirkan dia harus merelakan tali
pusarnya itu untuk diambil agar menyelamatkan kakaknya yang tengah menderita
penyakit yang sangat mematikan.
Hari
berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun pun dengan cepat berganti. Tak terasa
umur Nafsyi sekarang sudah menginjak usia 9 tahun, tapi nasib Nafsyi tak
berubah sedikit pun. Bahkan ibunya ingin mengambil organ apapun yang ada di
tubuh Nafsyi demi menyelamatkan Saffa dan ibu Raniyah tidak memperdulikan masa
depan Nafsy apabila organ tubuhnya itu di ambil dari tubuhnya.
Dan
bukan Nafsyi saja yang tidak di perhatikan oleh kedua orang tuanya tetapi Aero
kakak dari Saffa dan Nafsyi pun tak mendapat kasi sayang yang cukup dari kedua
orang tuanya. Aero pun tidak mau melanjutkan sekolah ketika Ia berumur 17 tahun
karena dia menderita penyakit yang tak di ketahui sampai sekarang. Dan kedua
orang tuanya tak tau sama sekali jika Aero sakit. Bahkan setiap hari Aero hanya
melakukan hobinya yaitu melukis dan pergi berkeliling kota untuk mengatasi rasa
bosannya dan sedihnya ketika melihat adiknya Saffa harus menderita.
Saat
ini Saffa sudah berumur 15 tahun, dan Ia tidak pernah bergaul dengan siapa pun
kecuali dengan kakaknya Aero dan adiknya Nafsyi karena dia menganggap bahwa
dirinya itu jelek dan tidak ada yang mau bergaul dengan dirinya. Saffa
mengalami krisis kepercayaan diri semenjak Ia menjalani terapi kanker yaitu
kemo terapi. Pada saat kemo terapi Ia harus rela kehilangan rambutnya sampai
tak tersisa satu helai di kepalanya. Hal itu yang membuat Saffa merasa malu dan
tak mau keluar menemui orang – orang. Ibu Raniyah dan pak Syafiq mencoba
membujuk Saffa agar dia mau keluar rumah.
“
Sayang kita pergi jalan – jalan yuk ?? ”
ajak pak Syafiq.
“ Ngak mau pah.. Saffa itu jelek.. ” jawab Saffa dengan nada tinggi.
“ Kamu itu cantik sekali sayang. ” timpal pak
Syafiq seraya meyakinkan.
“
Papa bisa ngomong gitu karena Saffa itu anak papa. ” ujar Saffa sambil
mengambil selimut lalu menutup mukanya.
“
Saffa ayo sekarang kita keluar untuk jalan – jalan. ” kata ibu Raniyah dari balik pintu kamar
Saffa.
“
Saffa ngak mau mah.. orang akan anggap Saffa itu aneh karena sebagai seorang
cewek Saffa ngak punya sehelai pun rambut karena bagi wanita rambut itu
mahkota. ” jawab Saffa menatap tajam mata mamanya.
Mendengar
perkataan anaknya itu, ibu Raniyah segera masuk ke dalam kamar mandi untuk
melakukan sesuatu yang akan membuat anaknya tidak merasa sendirian lagi. Karena
merasa khawatir dengan keadaan mamanya Saffa tak berhenti menyebut nama mamanya
itu. Tanpa diduga sebelumnya, ketika ibu Raniyah keluar dari kamar mandi Ia
sudah mencukur semua rambutnya sampai botak menyerupai anaknya. Ia rela melakukan ini semua karena dia tidak mau
anaknya sedih.
Akhirnya
Saffa ikut juga pergi jalan – jalan dengan keluarganya itu. Saffa berlari
kesana kemari dengan Nafsyi dan Aero karena mereka semua sangat merasa bahagia
karena dapat menghabiskan waktu bersama. Aero, Saffa, dan Nafsyi termasuk kakak
beradik yang sangat akrab dan kompak. Saffa berjalan di tengah keramaian dengan
perasaan yang gembira dan tidak merasa sedih lagi setelah mengetahui bahwa
ibunya rela melakukan hal itu agar dia mengerti kalau walaupun botak tapi Saffa
masih tetap cantik. Tak terhitung kebahagiaan yang ada saat keluarga itu pergi
berlibur.
Seminggu
setelah mereka sekeluarga pergi liburan, penyakit Saffa kembali kumat dan
segera di larikan ke rumah sakit. Dokter mengatakan bahwa kondisi Saffa sangat
memburuk bahkan dokter juga mengatakan bahwa ginjal Saffa sudah tidak dapat
berfungsi lagi sebab ini adalah efek dari obat – obatan yang telah di minum
oleh Saffa selama ini.
Nafsyi
dan Aero masuk kedalam ruang rawat inap Saffa dan menyemangatinya. Aero
mempunyai sebuah kado special untuk adiknya, Aero melukis wajah Saffa. Dan
lukisan itu sangat indah sekali.
“
Makasih yaa kakak ku sayang, lukisannya cantik sekali. ” Ujar Saffa sambil
tersenyum bahagia.
“ Iya sama – sama.. ” jawab Aero singkat.
“
Nafsyi, kamu mau kan lakukan apapun demi kakak..??? ” tanya Saffa.
“
Apapun yang kakak minta pasti aku akan berusaha mengabulkan kak, ” ujar Nafsyi.
“
Kamu mau kan berhenti mendonorkan organ tubuh mu ke aku,, karena semua itu akan
percuma. Aku sudah ngak kuat lagi dan agar di sisa – sisa terakhir hidup ku aku
tidak membuat orang lain menderita. ” kata Saffa meyakinkan.
“
Tapi bagaimana caranya Nafsyi ngomong ke mama papa kak..?? ” tanya Nafsyi
mencari tau.
“ Kamu bilang ke mama sama papa bahwa
kamu itu pengen hidup normal seperti anak – anak lainnya pengen pergi ke
pantai, jadi pemandu sorak dan semua hal – hal yang dilakukan oleh anak – anak
normal lainnya. ” ujar Saffa sambil memegang tanga Nafsyi.
“
Tapi Saffa..?? ” kata Aero cemas
“
Sudahlah kak, Saffa capek kayak gini terus lagipula hidup Saffa juga
ngak bakal lama lagi jadi Saffa harus melakukan hal ini, karena Saffa mau mama
itu bisa merelakan kepergian Saffa kak. Hanya itu yang Saffa inginkan. Jadi
kakak harus mendukung Saffa ya. ” jelas Saffa.
Keesokan harinya ibu Raniyah dan pak
Syafiq membicaran tentang hal pendonoran ginjal itu kepada Nafsyi.
“
Nafsyi, saat ini keadaan kakak mu sudah semakin parah dan Ia harus
segera menerima donor ginjal. ” ujar ibu
Raniyah penuh harapan.
“ Nafsyi ngak mau mah, dengan ginjal
satu Nafsyi ngak bisa hidup dengan normal lagi. Nafsyi udah ngak bisa ke pantai,
jadi pemandu sorak dan aktifitas yang dilakukan oleh anak – anak normal
lainnya. ” jawab Nafsyi dengan emosi yang menggebu – gebu.
“ Nafsyi..??? Ini bukan diri kamu yang sebenarnya sayang.
Kamu harus menolong kakak mu yang sedang berada di ujung maut. ” tegas ibu
Raniyah.
“
Ini adalah Nafsyi yang sebenarnya mah, dan Nafsyi ngak bakalan donorin
ginjal ini ke kak Saffa mah, pah. ” Jelas Nafsyi dan kemudian berlari menuju
kamarnya.
“ Nafsyi sudah besar dan dia sudah
tidak bisa lagi kamu sogok dengan permen atau coklat. ” sindir pak Syafiq
kepada istrinya.
Seminggu
berlalu dan Nafsyi sampai saat ini tak mau keluar dari kamarnya terutama dia
tak mau lagi bertemu dengan ibunya. Semakin hari keadaan Saffa memburuk dan
dokter harus mengatakan bahwa waktu Saffa sudah dekat dan tidak dapat dihindari
lagi.
“
Dok, lakukanlah sesuatu kepada anak saya..?? ” ujar ibu Raniyah berharap
banyak dari kata – kata dokter.
“
Maaf bu.. Saat ini kita semua harus melakukan hal – hal yang di minta
oleh Saffa agar dia bahagia untuk saat – saat ini. ” tegas dokter.
“
Dokter apa tidak bisa melakukan operasi pada Saffa setelah dokter pernah
mengoperasi Saffa puluhan kali. ” jawab ibu Raniyah tak rela.
“
Operasi hanya bisa memperparah keadaan Saffa bu.. jadi ibu harus melakukan
sesutu hal yang dapat membuat Saffa bahagia.”
Tutur dokter jelas.
Tak
lama kemudian mereka tiba di pantai. Dan senyum Saffa mulai mengembang. Nafsyi pun ikut terhanyut akan keindahan
pantai tersebut. Ibu Raniyah pun menyusul mereka bertiga ke pantai dan langsung
memeluk suaminya sebagai tanda bahwa Ia tak ingin bercerai dari suaminya. Saffa
pun semakin bahagia ketika melihat kedua orang tuanya berbaikan. Ayah. Ibu dan
kedua putrinya ini pun larut dalam kebahagiaan.
Walaupun
mereka semua sudah dewasa tetapi setiap liburan mereka selalu berada di tempat
yang sama. Dimana Saffa sangat suka mengunjunginya. Nafsyi bingung kenapa Saffa
lebih dulu meninggal dan mereka masih hidup, tapi entahlah. Hanya Tuhan yang
tau.
Keesokan
harinya Nafsyi ingin menengok kakaknya, setelah seminggu tak melihat
keadaannya. Nafsyi pergi ke rumah sakit dengan papanya. Setibanya di rumah
sakit mereka langsung menuju kamar Saffa. Setelah sampai di kamar Saffa, Nafsyi
langsung memeluk dan mencium kakaknya karena sudah lama tak bertemu.
“
Pah,, Saffa mau pergi ke pantai..?? sekali aja pah. ” tanya Saffa
memelas.
“
Papa tanyakan ke dokter dulu ya sayang. Sabar ya. ” jawab pak Syafiq
seraya meninggalkan kamar Saffa untuk ketemu dengan dokter.
“
Dok, apa saya boleh bawa anak saya ke pantai..?? ” tanya pak Syafiq.
“
Boleh sekali pak, karena hal itulah yang di butuhkan oleh Saffa untuk
saat ini. Nanti saya persiapkan segala sesuatunya pak. ” ujar dokter dengan
perasaan lega.
Pak Syafiq kembali ke kamar Saffa
dan memberitahukan bahwa Ia boleh pergi ke pantai. Sebelum menuju pantai pak
Syafiq kembali ke rumah untuk mengambil peralatan berenang. Sesampainya di rumah
ibu Raniyah curiga kenapa suaminya pulang lagi ke rumah. Ia menengok ke arah
mobil suaminya itu, dan ternyata disana ada Saffa. Dan ia langsung menemui
suaminya.
“
Pah, apa – apaan sih kamu kenapa kamu bawa Saffa keluar dari rumah
sakit. Dia bisa meninggal pah. ” tanya
ibu Raniyah emosi.
“
Asal kamu tau ya, Saffa itu sudah jenuh dan dia mau rekreasi sejenak.
Dan kita untuk saat – saat ini harus mengabulkan semua permintaan Saffa. Jika
kamu menghalangi kami kita bercerai. ”
tegas pak Syafik seraya meninggalkan ibu Raniyah untuk menuju ke pantai.
Tak
lama kemudian mereka tiba di pantai. Dan senyum Saffa mulai mengembang. Nafsyi pun ikut terhanyut akan keindahan
pantai tersebut. Ibu Raniyah pun menyusul mereka bertiga ke pantai dan langsung
memeluk suaminya sebagai tanda bahwa Ia tak ingin bercerai dari suaminya. Saffa
pun semakin bahagia ketika melihat kedua orang tuanya berbaikan. Ayah. Ibu dan
kedua putrinya ini pun larut dalam kebahagiaan.
Keesokan harinya keadaan Saffa
semakin menurun dan Aero tidak dapat berbohong lebih lama lagi. Karena melihat
keadaan adiknya yang semakin memburuk.
Akhirnya Aero membicarakan kejadian waktu itu kepada papa dan mamanya. Nafsyi
pun tak dapat mencegahnya. Akhirnya
semua mengetahui tentang rencan Saffa yang tak ingin mendapat donor dari
adiknya lagi. Nafsyi dan Aero meminta maaf kepada Saffa.
“
Kak, maafin Nafsyi karena Nafsyi ngak bisa melakukan tugas Nafsyi dengan
baik. ” ujar Nafsyi kecewa.
“
Ngak apa – apa sayang, kamu itu adiknya kakak yang paling hebat karena
kamu mau melakukan semua itu. ” jawab
Saffa dengan tersenyum.
“ Kakak bandel,
kan aku udah bilang jangan kasih tau siapa – siapa. ” Kata Saffa manja.
“ Maafkan kakak
yaa Saffa. ” ujar Aero sambil menhapus air matanya.
“ Semuanya.. bisa
ngak tinggalin aku berdua sama mama.. ”
tanya Saffa.
“
Ayo.. kita harus pulang ” kata pak Syafiq.
Setelah
berpamitan dengan Saffa, Nafsyi langsung pergi. Akhirnya mereka bertiga
meninggalkan kamar Saffa.
“ Mah, mama marah ya sama aku..??? ” tanya Saffa.
“ Tidak.. mama tidak marah.. hanya kesal ” jawab ibu Raniyah.
“ Mah,, ini aku ada kado buat mama.. Aku sengaja
mengasi album foto ini karena aku mau mama selalu ingat sama kegiatan yang
pernah kita alami. Terutama pada saat liburan di pantai. Hidup ku sluar biasa
kan mah..??? ” jelas Saffa.
“ Sangat luar biasa sayang ” jawab ibu Raniyah.
“ Mama masih ingat saat aku pergi berkemah dan
pada saat itu aku takut sendirian. Tapi mama selalu bilang agar aku duduk di
kursi sebelah kanan supaya dapat melihat mama di belakang. Saat ini aku ada di
kursi yang sama mah. ” terang Saffa sambil menenangkan mamanya yang sedari tadi
tak henti – hentinya meneteskan air mata.
Pada
malam itu ternyata Saffa telah menghebuskan nafas terakhirnya. Dan Ia segera di
kuburkan. Pak Syafiq, Ibu Raniyah, Aero, dan Nafsyi tidak berlarut – larut
dalam kesedihan mereka kembali bangkit dan berusaha memperbaiki kehidupan yang
kemarin – kemarin kurang baik.
Ibu Raniyah saat ini telah kembali
ke pekerjaannya yang semula dan mempunyai gaji yang sangat besar . Pak Syafiq
memilih untuk bekerja sebagai pembina anak – anak yang bermasalah. Aero
melanjutkan pendidikannya kembali setelah Ia mendapa beasiswa di sekolah seni
di New York. Sementara Nafsyi menjadi seorang anak yang berprestasi di sekolahnya
sekaligus dia menjadi ketua OSIS di sekolahnya.
Walaupun
mereka semua sudah dewasa tetapi setiap liburan mereka selalu berada di tempat
yang sama. Dimana Saffa sangat suka mengunjunginya. Nafsyi bingung kenapa Saffa
lebih dulu meninggal dan mereka masih hidup, tapi entahlah. Hanya Tuhan yang
tau.
Saat
ini Nafsyi sadar bahwa dia dilahirkan ke dunia ini bukan sebagai penyelamat
kakaknya tetapi bagaimana dia mempunyai seorang kakak yang sangat luar biasa.

